Make your own free website on Tripod.com

 

 

 

Profil

Artikel

Kasus

Obat

Ibnu-Ruman's-Club

 

Situs-Favorit

 

Perencanaan

 

PANDUAN UMUM

Panduan Umum meliputi :

  1. Perbedaan obat psikotropik dan narkotik

  2. Resiko penyalahgunaan obat psikotropik

  3. Orientasi pada gejala sasaran (target syndrome oriented)

  4. Perbedaan efek primer dan efek sekunder

  5. Prinsip titrasi dosis (tailoring the dose of drug)

  6. Obat acuan (reference drug)

  7. Asas manfaat dan resiko (benefit and risk analysis)

  8. Dukungan terhadap hubungan dokter dan pasien yang psikoterapeutik

  9. Symptomatic & disease modifying drugs

  10. Trias : gejala sasaran, dosis, dan lama pemberian

1. PERBEDAAN OBAT PSIKOTROPIK DAN NARKOTIK

OBAT PSIKOTROPIK

        Obat psikotropik adalah obat yang bekerja secara selektif pada susunan saraf pusat (SSP) dan mempunyai efek utama terhadap aktivitas mental dan perilaku, dan digunakan untuk terapi gangguan psikiatrik.

 

OBAT NARKOTIK

        Obat narkotik adalah obat yang bekerja secara selektif pada susunan saraf pusat (SSP) dan mempunyai efek utama terhadap perubahan atau penurunan kesadaran, hilangnya rasa, dan mengurangi sampai menghilangkan rasa nyeri, digunakan untuk analgesik, antitusif, antispasmodik, dan premedikasi anestesi.

 

OBAT

SIFAT KERJA

TEMPAT KERJA

EFEK UTAMA  

KEGUNAAN

CONTOH

1.    Psikotropik

*      selektif

*      susunan saraf pusat (SSP)

*      aktivitas mental dan perilaku

*      terapi gangguan psikiatrik

*      alkohol

*      kanabinoida

*      sedativa/ hipnotika

*      stimulansia

*      halusinogenik

*      tembakau

*      pelarut yang mudah menguap

*      dan lain-lain

2.    Narkotik

*      selektif

*      susunan saraf pusat (SSP)

*      perubahan kesadaran

*      perubahan rasa terutama rasa nyeri

*      analgetik

*      antitusif

*      antispasmodik

*      premedikasi anestesi

 

*      opioid (morfin, petidin, kodein,

        papaverine)

*      kokain

*      ganja

Ket. :  secara medik hanya opioid sedangkan menurut UU No. 22/1977 ketiganaya

 

ZAT PSIKOAKTIF

        Zat psikoaktif adalah zat yang mempengaruhi aktivitas mental dan perilaku. Zat ini meliputi obat psikotropik dan narkotik.

ZAT ADIKTIF

        Zat adiktif adalah zat yang dapat menimbulkan sindrom ketergantungan.

2. RESIKO PENYALAHGUNAAN OBAT PSIKOTROPIK

Gangguan Mental dan Perilaku

        Manifestasi gangguan mental dan perilaku akibat penggunaan zat psikoaktif yaitu :

  1. Intoksikasi akut

  2. Penggunaan yang merugikan (harmful use)

  3. Sindrom ketergantungan (dependence syndrome)

  4. Keadaan putus zat (withdrawal state)

  5. Gangguan psikotik

  6. Sindrom amnesik

Intoksikasi akut

  • Berkaitan dengan dosis zat yang digunakan (efek yang berbeda pada dosis yang berbeda)

  • Gejala ini tidak selalu mencerminkan efek primer zat (dapat terjadi efek paradoks)

Penggunaan yang merugikan (harmful use)

  • Merusak kesehatan (fisik maupun mental)

  • Sindrom ketergantungan belum tampak

  • Sudah ada hendaya psikososial

Sindrom ketergantungan (dependence syndrome)

  • Adanya keinginan yang sangat kuat (dorongan kompulsif) untuk menggunakan zat psikoaktif secara terus-menerus dengan tujuan memperoleh efek psikoaktif dari zat tersebut.

  • Adanya kesulitan dalam menguasai (loss of control) perilaku menggunakan zat (memulai, menghentikan, atau membatasi jumlahnya).

  • Pengurangan atau penghentian penggunaan zat menimbulkan keadaan putus zat dengan perubahan fisiologis tubuh yang tidak menyenangkan sehingga memaksa pemakainya menggunakan kembali zat itu atau zat sejenis  untuk menghilangkan gejala putus zat.

  • Terjadi gejala toleransi, yaitu peningkatan dosis zat psikoaktif yang diperlukan untuk memperoleh efek yang sama.

  • Terus menggunakannya walaupun pemakainya menyadari adanya efek yang merugikan kesehatan.

Keadaan putus zat (withdrawal state)

Text Box: GANGGUAN MENTAL DAN PERILAKU

  •  Timbulnya gejala-gejala fisik maupun mental sesudah penggunaan zat psikoaktif yang berlangsung secara terus-menerus, dalam jangka waktu yang lama, dan/atau dosis tinggi.

  • Bentuk dan keparahan gejala tersebut tergantung dari jenis dan dosis zat psikoaktif yang digunakan sebelumnya.

  • Gejala tersebut akan mereda dengan meneruskan penggunaan zat itu.

  • Salah satu indikator dari sindrom ketergantungan.

Gangguan psikotik

  • Sekelompok gejala psikotik yang terjadi selama atau segera sesudah penggunaan zat psikoaktif.

  • Gejalanya yaitu halusinasi, kekeliruan identifikasi, waham, dan/atau ideas of reference (gagasan tentang dirinya sebagai acuan) yang seringkali bersifat kecurigaan atau kejaran, gangguan psikomotor (excitement atau stupor) dan afek yang abnormal antara ketakutan yang mencekam hingga kesenangan yang berlebihan.

  • Umumnya kesadarannya masih jernih

  • Variasi gejala dipengaruhi jenis zat yang digunakan dan kepribadian penggunanya.

Sindrom amnesik

  • Adanya hendaya atau gangguan daya ingat jangka pendek (recent memory) yang menonjol, kadang-kadang ditemukan gangguan daya ingat jangka panjang (remote memory) sedangkan daya ingat segera (immediate recall) masih baik. Fungsi kognitif lainnya biasanya masih baik.

  • Adanya gangguan sensasi waktu (menyusun kembali urutan kronologis, meninjau kejadian berulangkali menjadi satu peristiwa, dll.)

  • Kesadaran masih jernih

  • Perubahan kepribadian yang sering disertai keadaan apatis, hilangnya inisiatif, dan kecenderungan mengabaikan keadaan.

3. ORIENTASI PADA GEJALA SASARAN (TARGET SYNDROME ORIENTED)

JENIS OBAT

GEJALA SASARAN

 ANTIPSIKOSIS

 PSIKOSIS

ANTIDEPRESI DEPRESI
ANTIMANIA MANIA
ANTIANXIETAS ANXIETAS
ANTIINSOMNIA INSOMNIA
ANTIOBSESIF KOMPULSIF OBSESIF KOMPULSIF
ANTIPANIK PANIK

   

4. PERBEDAAN EFEK PRIMER DAN EFEK SEKUNDER

   

Efek primer

  • Adalah efek klinis terhadap target syndrome

  • Biasanya timbul setelah efek sekunder

Efek sekunder

  • Adalah efek samping obat yang juga digunakan untuk tujuan terapi.

  • Biasanya timbul pertamakali sebelum efek primer.

Efek idiosinkrasi

  • Adalah efek pengobatan yang dipengaruhi faktor individual (hipersensitivitas)

Efek toksik

  • Adalah efek pengobatan yang disebabkan overdosis.

5. PRINSIP TITRASI DOSIS (TAILORING THE DOSE OF DRUG)

   

Dosis awal

  • Dosis anjuran

  • Dinaikkan secara cepat sampai mencapai dosis efektif

Dosis efektif

  • Dosis yang pertama kali berefek supresi terhadap gejala sasaran.

  • Dinaikkan secara gradual sampai mencapai dosis optimal

Dosis optimal

  • Dosis yang telah mampu mengendalikan gejala sasaran.

  • Dipertahankan sampai jangka waktu tertentu sambil disertakan terapi lain (non medikamentosa).

  • Diturunkan secara gradual sampai mencapai dosis pemeliharaan (maintenance dose)

Dosis pemeliharaan (maintenance dose)

  • Dosis terkecil yang masih mampu mencegah kambuhnya gejala.

  • Dipertahankan sampai hasil terapinya cukup mantap

  • Diturunkan secara gradual sampai dihentikan (tapering off).

                        

                        Keterangan :

                        Fase : A. Terapi simptomatik (acute case)

  • Menggunakan upward titration yaitu dosis awal yang kecil ditingkatkan sampai mencapai dosis efektif lalu dinaikkan sampai mencapai dosis optimal.

                                  B. Terapi disease modifying (chronic case)

  • Menggunakan downward titration yaitu dosis optimal dipertahankan lalu diturunkan hinggan mencapai dosis pemeliharaan (maintenance dose) dan selanjutnya di-tapering off.

6. OBAT ACUAN (REFERENCE DRUG)

Obat acuan (reference drug)

  • Prototipe setiap golongan obat psikotropik dimana obat lain yang segolongan selalu mengacu kepadanya, baik dalam perbandingan efektivitas obat (efek primer dan sekunder) maupun dalam dosis (dosis ekivalen).

  • Perkembangan obat-obat baru berupaya lebih baik darinya, baik efektivitas klinisnya yang lebih ampuh maupun efek sampingnya yang lebih ringan dalam dosis yang ekivalen.

7. ASAS MANFAAT DAN RESIKO (BENEFIT AND RISK ANALYSIS)

Asas manfaat dan resiko (benefit and risk analysis) :

  • Selalu dipertimbangkan dalam penggunaan klinis obat psikotropik.

  • Penggunaan obat psikotropik yang rasional                  gejala sasaran dapat diredam                  memberi peluang untuk integrasi bio-psiko-sosial (dengan terapi psiko-sosial)                pemulihan dari keadaan sakit.

  • Penggunaan obat psikotropik yang tidak rasional                 ketergantungan obat                 disintegrasi bio-psiko-sosial                hendaya/disabilitas/cacat yang makin lama makin berat.

  • Selalu harus melakukan monitoring efek samping secara klinis dan laboratorium untuk deteksi dini dan upaya penanggulangan resiko pemakaiannya.

  • Penggunaannya sangat hati-hati pada :

    • anak-anak dan usia lanjut (dosis harus kecil dengan monitoring ketat)

    • wanita hamil dan menyusui (pertimbangan resiko dan manfaatnya). Umumnya obat psikotropik beresiko tinggi untuk wanita hamil, khususnya pada trimester pertama, karena obat dapat melewati plasenta dan mempengaruhi janin. Juga dapat melewati ASI dan berefek negatif terhadap bayi.

    • pasien dengan kelainan jantung dan ginjal, glaukoma, hipertropi prostat, asma bronkiale, dan epilepsi (pilihan obat yang paling minimal berdampak terhadap penyakit tersebut).

    • pasien yang mengendarai kendaraan atau menjalankan mesin yang memerlukan kewaspadaan tinggi (sedapat mungkin dihindarkan).

8. Dukungan hubungan dokter dan pasien yang psikoterapeutik

 

Dukungan hubungan dokter dan pasien yang psikoterapeutik

  • Sangat mempengaruhi efektivitas penggunaan klinis obat psikotropik

  • Dokter sebaiknya mampu mendengar dengan baik dan menaruh respek terhadap pasien

  • Pasien harus mempercayai sepenuhnya kemampuan dan itikad baik dokter.

  • Dibutuhkan kepatuhan (compliance) dan ketekunan pasien karena pengobatan ini  memerlukan waktu yang cukup lama untuk mendapatkan efektivitas pengobatan.

  • Perlu adanya komunikasi antara dokter dengan pasien dan informasi yang memadai tentang resiko (efek samping) dan manfaat pengobatan sehingga pasien akan mampu mentolerir timbulnya efek samping yang kemungkinan besar akan terjadi dan bersifat sementara yang akan hilang dengan sendirinya seiring berlanjutnya pengobatan. Hal ini penting, karena adanya miskonsepsi tentang efek ketergantungan dan kelemahan saraf/mental dari pengobatan psikotropik.

9. Symptomatic & disease modifying drugs

 

Symptomatic & disease modifying drugs

  • Symptomatic drugs untuk mengatasi gejala klinik tertentu yang muncul pada saat tertentu. Contohnya adalah pemberian obat psikotropik yang berefek sedasi untuk membantu kesulitan tidur.

  • Disease modifying drugs untuk terapi gangguan psikiatrik tertentu dalam jangka waktu yang cukup lama. Contohnya pemberian Chlorpromazine pada skizofrenia.

  • Disease modifying drugs tidak berarti menimbulkan ketergantungan obat karena tidak ada sindrom ketergantungan.

10. Trias : gejala sasaran, dosis, dan lama pemberian

 

Trias : gejala sasaran, dosis, dan lama pemberian

  • Untuk menilai efektivitas pengobatan psikotropika

  • Harus jelas tentang apa gejala sasarannya (target syndrome), besarnya dosis, dan lamanya pemberian pengobatan pada setiap fase pengobatan.

  • Hal-hal yang harus selalu diingat dalam penggunaan klinis obat psikotropik :

    • sesuai dengan situasi dan kondisi individual (tailored)

    • penyesuaian secara bertahap (stepwise)

    • pantau terus menerus (monitoring)

    • terencana dan terprogram (rational management)

 

 

Use Advanced Search

 

Saran dan kritik : dokter77mylove@yahoo.com

Desain oleh        : Asep Subarkah, S.Ked.